Alasan Kenapa Kita Harus Bangga Meski Timnas Gagal Juara AFF 2016

Jangan patah arang. Ambil pelajaran atas kekalahan. Timnas Indonesia tetaplah semangat –Jkw

Begitulah cuitan Pak Presiden melalui akun twitternya yang diretweet sebanyak 8000 kali setelah Timnas Indonesia gagal meraih asa juara Piala AFF 2016 untuk pertama kalinya. Pasalnya, Timnas harus mengakui kekalahan atas Thailand 2-0 pada leg kedua di Stadion Rajamangala. Sehingga membuat agregat keunggulan berbalik 2-3 untuk Tim Gajah Putih.

Meski gagal, Indonesia tetap mendapatkan apresiasi dari para pendukung baik yang datang langsung ke Thailand maupun melalui layar kaca dari Tanah Air. Hal itu dapat dilihat dari sosial media yang barangkali menjadi tempat mencurahkan rasa. Selain Bapak Jokowi menyampaikan ciutan apresiasinya kepada Timnas, netizen pun juga menyampaikan hal serupa. Jika ditelusuri lebih dalam ada beberapa alasan kenapa kita harus bangga dan mengapresiasi meski timnas gagal juara AFF 2016.

Apa saja alasannya? Mari siapkan secangkir kopi dan simak baik ulasan dari kami.

Indonesia layaknya tim kuda hitam

selebrasi boaz
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Selebrasi Boaz setelah sepakan penalti tak mampu dibendung kiper Vietnam via bola.net

Timnas Indonesia tetap berjuang maksimal meski harus bersaing di grup neraka yang memiliki lawan-lawan tangguh. Lawan di grup A ada Thailand, tuan rumah Filipina, dan Singapura. Secara kalkulasi di atas kertas, hasilnya pun bisa ditebak. Banyak pengamat memprediksi bahwa Thailand dan Filipina lah yang lolos. Namun, tak terduga Indonesia bisa lolos, meski hanya runner-up grup.

Perjuangan berat yang dilewati Timnas Indonesia di babak penyisihan patut kita apresiasi. Meski takluk dari Thailand 4-2, ditahan imbang Filipina 2-2. Namun di laga pamungkas penentuan lolos ke babak semifinal menjadi milik Indonesia setelah menang 2-1 atas Singapura.

Lolos dari grup neraka, Timnas Indonesia seperti masuk kandang singa. Pasalnya, mereka harus menghadapi Vietnam, tim yang sedang mengalami perkembangan pesat di semifinal. Ibarat seorang tentara, Timnas Indonesia pun harus berjuang hingga tetes darah terakhir menghadapi determinasi Vietnam asuhan Nguyen Huu Thang. Hasilnya? Agregat 4-3 mengunci Indonesia masuk partai final setelah menang 2-1 di leg pertama sebagai tuan rumah dan ditahan imbang 2-2 di leg kedua sebagai tim tamu.

Lolosnya Indonesia ke final juga tak lantas membuat perjuangan mereda. Justru semakin habis-habisan. Karena Thailand siap menggempur ulang jala Kurnia Meiga. Namun tak terduga,Thailand yang pernah menaklukan Indonesia saat babak penyisihan dipaksa kalah 2-1 saat bertandang di Stadion Pakansari Cibinong. Kemenangan ini memantikkan semangat dan optimisme suporter Indonesia. Namun apa daya, keunggulan di atas kertas tak dapat dibohongi. Thailand main begitu ofensif pada leg kedua hingga tak ada sedikitpun ruang untuk Timnas Indonesia. Akhirnya Thailand menang 2-0 memaksa Indonesia hanya tampil sebagai runner-up Piala AFF 2016.

Aksi heroik para punggawa garuda

Selebrasi Lilipaly usai mencetak gol melawan Vietnam di leg kedua Piala AFF 2016 via bola.net
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Selebrasi Lilipaly usai mencetak gol melawan Vietnam di leg kedua Piala AFF 2016 via bola.net

Bicara perjuangan timnas tentu mengisahkan aksi-aksi heroik para pemainnya. Mulai pada laga penentuan lolos grup, dimana pada saat itu Indonesia hampir angkat koper. Namun kecerdikan Andik Vermansyah dan Stefano Lilipaly dapat mengembalikan keadaan. Gol mereka mematahkan asa SIngapura untuk lolos group.

Pada semifinal aksi heroik juga ditunjukkan oleh punggawa garuda. Bisa dilihat saat leg kedua di Vietnam, Indonesia dipaksa bermain hingga babak perpanjangan waktu. Namun sial buat Vietnam, pada akhirnya mereka tetap tersingkir akibat gol penalti Manahati Lestusen di menit ke-97. Gol Manahati membuat Timnas Indonesia unggul agregat 4-3 atas The Golden Stars.

Di laga penentuan juara, aksi heroic juga ditunjukkan oleh Kurnia Meiga. Ia berhasil menggagalkan penalti Teeresil Dangda. Memang pada akhirnya kalah, namun aksi-aksi seperti ini akan menjadi kenangan paling dalam untuk Timnas Indonesia.

Perjuangan Indonesia di tengah persepakbolaan Indonesia sedang lesu

alfred riedl
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Terbatasnya ruang gerak Alfred Riedl dalam menyusun formasi timnas terbaik via fourfourtwo.com

Kita harus berterima kasih kepada jajaran pelatih dan staff Timnas yang sudah menyeleksi pemain-pemain terbaik dengan susah payah. Terlebih di saat persepakbolaan Indonesia sedang direcovery karena sanksi FIFA yang memaksa liga Indonesia sempat behenti cukup lama. Meski belum lama sanksi tersebut dicabut, Liga resmi lokal pun juga belum ada ujungnya. Hanya terdapat laga-laga sponsorship seperti salah satunya Torabika Championship presented by Indonsat Ooredoo dan PT Gelora Trisula Semesta (GTS).

Meski setidaknya ada laga, tetapi tetap menyusahkan Alfred Riedl dan kawan-kawan dalam menyeleksi pemain. Pasalnya, sponshorship sepakat untuk hanya melepas maksimal dua pemain untuk memenuhi panggilan Timnas Indonesia.

Timnas mampu meredam panasnya keadaan, membangkitkan persatuan

timnas selangkah lagi ke final piala aff 2016
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Indonesia di hati para pendukungnya

Di tengah keadaan Indonesia yang memanas akibat SARA, politik, ekonomi dan sebagainya, Timnas mampu merangkul semuanya menjadi lebih kondusif. Perhatian masyarakat seolah ganti fokus untuk bersama-sama mendukung dan mendoakan Timnas. Bahkan, meski Indonesia tak juara, masyarakat tetap menyebut Timnas juara tanpa mahkota. Mereka tetap bangga dengan prestasi yang dicapai Timnas tahun ini.

Semoga, alasan-alasan di atas dapat memberikan kesadaran bagi kita semua bahwa perjuangan timnas di ajang AFF Suzuki Cup 2016 patut kita apresiasi. Mungkin dapat menjadi bahan evaluasi agar kedepannya Timnas mampu meraih trofi.

Kita tunggu saja kelanjutannya tahun depan saat SEA Games dan tahun 2018 saat Asian Games.

Start typing and press Enter to search

Khasiat Buah Merah Khas Papuakuda laut pigmi Indonesia