Inovasi Warga Klaten, Berhasil Ubah Sampah Plastik Jadi Setara BBM

Raden Trisna Tirtana bersama mesin Nusantara,  foto utama via www.jawapos.com

KLATEN –  Seorang pegawai negeri sipil Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Raden Trisna Tirtana, menawarkan solusi bagi permasalahan sampah yang tak kunjung selesai. Berawal dari keterbatasan lahan untuk membuang sampah di lingkup perumahan Troso Baru, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, ia bersama warga setempat memiliki ide brilian untuk menciptakan sebuah mesin pengolah sampah plastik.

Bermodal keterampilan masing-masing warga, dan semangat Trisna mengatasi permasalahan sampah tersebut, akhirnya terciptalah sebuah mesin yang dinamai Nusantara, Nuansa Pengelolaan Sampah Setara. Mesin ini diklaim bisa mengubah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) setara.

Dibiayai dengan kantong warga pribadi, tepat 3 September 2017 Trisna mulai memperkenalkan mesin tersebut ke masyarakat. Mesin Nusantara bisa mengubah sampah plastik menjadi energi alternatif bahan bakar cair yang setara dengan solar, minyak tanah, dan premium. Tak hanya itu, mesin ini juga menghasilkan bahan dasar pembuatan batako dan paving block.

Menurut Trisna, desain Nusantara dibuat berbentuk tabung yang menampung sampah plastik dengan kapasitas 20-25 kilogram. Di bawah tabung, terdapat kompor yang akan melakukan pembakaran selama delapan jam dengan suhu 450 derajat Celsius. “Bahan bakarnya oli bekas atau minyak jelantah.” kata Trisna.

Proses pengolahan dan pembakaran itu memakai metode destilasi, hasilnya berupa kumpulan uap panas yang berubah menjadi cairan. Uap akan dialirkan melalui selang yang tertuju pada botol penampung. Dari 25 kg sampah plastik yang dibakar tadi, akan didapat 2 kg pasir plastik, 10 liter bahan bakar setara solar, 3 liter setara minyak tanah, dan 2 liter setara premium.

Pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada  itu juga mengatakan bahwa tidak bisa menyebut bahan cair tersebut premium atau solar, namun bisa dikatakan setara dengan BBM, karena sudah diuji coba langsung ke motor, kompor minyak dan alat pemotong rumput. Dan hasilnya ketiga alat tersebut bisa bekerja dengan baik.

Tekad Trisna dan dukungan yang kuat dari timnya, pada 23 November 2017 ia telah melakukan pendaftaran hak paten ke kantor Kemenkumham wilayah Semarang. Trisna pun memenuhi syarat-syarat pendaftaran seperti pengisian formulir, membayar biaya pendaftaran paten, dan melampirkan deskripsi detail mengenai mesin Nusantara dalam bentuk tulisan.

Namun, waktu proses menunggu keluarnya sertifikat tersebut tidaklah singkat. Trisna mengatakan minimal memakan waktu 8 bulan dan paling lama sekitar 2 tahun.

Untuk mengatasi lamanya waktu, Trisna yang juga paham betul di bidang hukum, mengambil langkah untuk menggunakan mekanisme paten  First to File, First to Publish, artinya bahwa seseorang yang pertama kali mengajukan permohonan, dialah yang dianggap pemegang paten. Hal tersebut diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2016. Sehingga bisa dikatakan sejak 3 September lalu, saat Trisna memperkenalkan mesin Nusantara, ia telah menjadi pemegang paten mesin tersebut.

Secara perlahan, Trisna bersama timnya mulai melakukan presentasi mesin Nusantara. Mereka juga membuat tim untuk mengembangkan mesin inovasi ini.

“Saya pribadi sangat terbantu dengan adanya mesin pengolah sampah plastik Nusantara, sampah sudah tidak menumpuk lagi di rumah. Apalagi sampah plastik yang membutuhkan waktu lama agar terurai. Dengan mesin inilah, sampah plastik segera diproses.” kata Supriyadi, warga perumahan Troso Baru.

Start typing and press Enter to search

Peta 2017 Dirilis, Wilayah Laut Indonesia Kembali Bertambah Luas!