Jemparingan, Tradisi Panahan Kuno Asli Yogyakarta

Mendengar kata “Panahan”, pasti sudah tak asing lagi di telinga kita. Sebab olahraga ini termasuk yang tertua di dunia, tepatnya sudah dikenal 5000 tahun silam. Mungkin pada mulanya tidak disebut sebagai olahraga, tetapi hanyalah tradisi berburu yang kemudian berkembang sebagai senjata perang dan lama-kelamaan menjadi olahraga ketepatan.

Dari awal mula panahan tersebut, ternyata Indonesia memiliki versinya sendiri. Dikenal sebagai Jemparingan, tradisi panahan kuno asli  Yogyakarta. Jemparingan sangat berbeda dengan panahan pada umumnya. Perbedaannya terletak pada busur panah yang digunakan yakni hanya terbuat dari kayu dan bambu sederhana. Masyarakat Jogja menyebut busur panah tersebut dengan ‘Gendhowo’. Selain itu, jemparingan dilakukan dengan duduk bersila dan para pemainnya pun harus mengenakan busana tradisional, yakni blankon dan surjan bagi pria serta kebaya dan jarik bagi wanita.

Perjalanan Jemparingan

awal mula jemparingan jogja
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Panahan khas Mataraman via 500px.com

Konon panahan asli Indonesia ini sudah berlangsung sejak zaman kerajaan mataram. Dimana dulunya jemparingan hanyalah kegiatan ‘gladhen’ yakni latihan para prajurit keraton. Namun seiring perkembangan zaman, jemparingan telah berubah menjadi sebuah kegiatan olahraga dan tradisi yang sering dilombakan. Lebih tepatnya, era jemparingan sebagai perlombaan olahraga yang khas dimulai pada tahun 1934. Saat itu, peserta hanya diikuti oleh mayoritas abdi dalem dan penghuni keraton. Namun di tahun 1945 hingga sekarang, masyarakat umum pun bisa mengikutinya.

Olahraga yang sarat filosofi

nilai filosofi dalam jemparingan
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Perasaan dan ketenangan fokus mutlak dilakukan via lpmhimmahuii.org

Keunikan dari panahan asli Indonesia ini pun juga memiliki nilai filosofi yang kental bagi masyarakat Jogja. Yakni “pamenthaning gendewa, mujudake pamenthenging cipta” yang berarti jemparingan bukan sekadar olahraga namun juga seni mengolah rasa. Dalam arti kata, seorang pemanah dalam membidik harus menggunakan perasaan dan ketenangan layaknya mengheningkan cipta agar bidikannya tepat sasaran. Selain itu, filosofis ketenangan yang dimaksud memiliki pesan bahwa seseorang harus mempunyai ketenangan dalam mengambil keputusan, agar keputusan tersebut tepat.

Memang benar, jemparingan ini lebih terasa jika pemainnya dalam suasana hati yang bahagia. Sehingga ketenangan hati dan pikiran akan menjadi satu fokus untuk membidik sasaran. Jadi, apabila kamu ingin mencobanya, jangan sekali-kali dalam suasana hati yang gundah gulana apalagi galau. 😀 Selain tidak tepat sasaran, bidikanmu bisa membahayakan orang.

Aturan permainan yang sederhana

Bandul sasaran via beritagar.id
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Bandul sasaran via beritagar.id

Dalam melakukan jemparingan, tentunya aturan yang digunakan berbeda dengan panahan pada umumnya. Seperti yang telah disebutkan diatas, pemain harus duduk bersila dengan jarak 30 meter dari sasaran. Sasarannya sendiri tidak lingkaran seperti panahan modern, tetapi berupa bandul putih yang digantung dengan panjang sekitar 30 cm. Saat memanah, pemain diberi kesempatan menembak 20 ronde dengan empat anak panah pada setiap rondenya. Poin tertinggi didapatkan jika anak panah menancap pada bagian merah bandul (bagian atas bandul).

Anak muda ikut andil melestarikannya

Jemparingan yang diminati kaum milenial
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Jemparingan yang diminati kaum milenial via tapakasmo.com

Siapa bilang jemparingan selamanya terkesan kuno. Era milenium seperti sekarang, jemparingan tak hanya diminati oleh kaum tua, tetapi juga anak muda. Terlebih anak muda sekitaran Keraton atau Pakualaman, banyak dari mereka yang turut melestarikan panahan asli Jogja ini kok.

Bahkan sudah ada empat komunitas besar yang aktif mengadakan latihan bersama dan rutin berkompetisi. Komunitas-komunitas tersebut dapat menampung semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Sehingga dari keaktifan tersebut sekaligus melestarikannya bukan? Selain komunitas yang melestarikan jemparingan, Sultan, Raja Ngayogyakarta Hadiningrat juga turut melestarikan dengan mengadakan lomba Jemparingan secara rutin di belakang Keraton.

Baca juga: 10 Destinasi “Instagramable” Jogja Anti Mahal

Nah, jika kamu sedang berkunjung di kota Jogja, sempatkan mampir menyaksikan perlombaan Jemparingan. Karena jika kamu menyaksikannya, serasa kembali ke zaman dahulu atau merasa sedang berada di film kolosal.

Perlombaannya diadakan di hari-hari tertentu dengan menggunakan pasaran Jawa. Seperti Minggu Kliwon, Selasa Pahing dan sebagainya. Jika kamu bingung kapan dan dimana lomba dilangsungkan, coba ke Royal Plaza Ambarukmo Hotel di hari Jumat mulai jam 3 sore. Setiap hari tersebut perlombaan rutin digelar. Disana kamu pun bisa mencobanya, tentunya dengan pengawasan para ahli. Jika ingin lebih mendalami nuansanya, datang ke Keraton Ngayogyakarta Hadingingrat di momen-momen penting, misalnya Hari Jadi Yogyakarta dan sebagainya.

Berniat mencobanya?

  • Agung

    Manteb, gas jogja kalo gitu.. wkwk 😀

Start typing and press Enter to search