Kota Tua Jakarta, Edutravel Historis Batavia

Siapa yang tak kenal Jakarta? Ibukota Indonesia ini dikenal sebagai kota metropolitan yang sudah pasti banyak gedung-gedung bertingkat, mall-mall yang bertebaran, juga permasalahan-permasalahan yang sulit terselesaikan.

Namun dibalik itu semua, ibukota menyimpan sejarah yang sayang untuk dilupakan. Ya, Batavia, nama yang diberikan oleh orang Belanda pada koloni dagang yang sekarang tumbuh menjadi Jakarta, ibu kota Indonesia.

Batavia sendiri sebenarnya hanya kawasan kecil yang luasnya tak kurang dari 1,3 km2. Wilayah khusus ini melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Roa Malaka dan Taman Sari). Wilayah eks Batavia atau sekarang yang sering disebut Kota Tua Jakarta telah mengalami perubahan. Ada beberapa tempat yang sudah dihancurkan untuk alasan tertentu seperti :

  • Benteng Batavia dihancurkan antara 1890–1910, beberapa material digunakan untuk pembangunan Istana Daendels (sekarang Departemen Keuangan Nasional)
  • Gerbang Amsterdam (lokasinya berada dipertigaan Jalan Cengkeh, Jalan Tongkol dan Jalan Nelayan Timur. Dihancurkan untuk memperlebar akses jalan) dihancurkan pada tahun 1950an untuk penglebaran jalan.
  • Jalur Trem Batavia (Jalur ini pernah ada di kota Batavia, tetapi sekarang sudah ditimbun dengan aspal. Karena Presiden Soekarno menganggap Trem Batavia yang membuat macet)

Beberapa bangunan berada dalam kondisi mengenaskan kebanyakan akibat kepemilikan bangunan yang tidak jelas. Pemerintah kota Jakartapun telah beberapa kali melakukan upaya untuk membenahi kawasan kota tua Jakarta sebagai cagar budaya yang menarik, nyaman dan mudah untuk dikunjungi para wisatawan lokal maupun asing. Hingga sekarang telah mengalami perluasan area wisata.

Nah, bagi Kamu yang merupakan warga Jakarta atau wisatawan yang sedang berkunjung ke ibu kota, Kota Tua adalah tempat wisata bersejarah yang wajib kamu datangi. Kenapa Kota Tua?

Di Kota Tua Jakarta kamu tak hanya dapat berwisata, menikmati suasana tempo lama, tapi juga dapat sebagai edukasi sejarah yang menyimpan beragam informasi berharga tentang sejarah kota.

Ada apa sajakah di Kota Tua Jakarta?

Sebagai permukiman penting, pusat kota, dan pusat perdagangan di Asia sejak abad ke-16, Batavia lama merupakan rumah bagi beberapa situs dan bangunan bersejarah di Jakarta yang diantaranya.

Museum Fatahillah (Bekas Balai Kota Batavia)

Museum ini juga dikenal dengan nama Museum Batavia atau Museum Sejarah Jakarta. Terdiri dari tiga lantai, museum ini memiliki tak kurang dari 25.000 koleksi benda bersejarah. Sangat cocok dikunjungi bagi Kamu yang ingin sekadar melihat furnitur, keramik, meriam, prasasti, dan artefak unik lain yang sudah mengiringi perkembangan kota Jakarta.

Untuk bisa masuk ke museum Fatahillah, Kamu harus membayar tiket masuk senilai 2.000 Rupiah saja, cukup murah bukan? Apalagi jika dibandingkan dengan biaya yang harus Kamu bayar, bila memutuskan untuk berwisata akhir pekan ke luar kota. Museum buka setiap hari Selasa sampai Minggu, antara jam 9 pagi hingga 3 sore.

Museum Bank Indonesia

Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.

Museum Bank Indonesia buka setiap hari kecuali Senin dan hari libur nasional dan mengunjunginya tidak dipungut biaya.

Museum Wayang

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini loh..

Selain itu secara periodik disenggelarakan juga pagelaran wayang pada minggu 2 dan ke 3 setiap bulannya.

Museum Seni Rupa dan Keramik Indonesia

Museum ini sangat nyaman untuk dikunjungi, terutama untuk anda pencinta seni. Pada 20 Agustus 1976, tempat ini dijadikan Gedung Balai Seni Rupa dan pada 10 Juni 1977, dilengkapi dengan Museum Keramik

Pengunjung museum ini dapat menikmati berbagai keramik dari masa ke masa dan dari berbagai tempat, termasuk keramik yang berasal dari kapal Cina yang karam di perairan Indonesia. Selain itu, pengunjung juga dapat melihat berbagai lukisan terkenal karya anak negeri seperti Basuki Abdullah, Raden Saleh, Dullah dan masih banyak lagi

Toko Merah

Destinasi lain yang juga tak boleh dilupakan kala berkunjung ke Kota Tua Jakarta adalah Toko Merah. Baron Van Imhoff, gubernur jendral VOC dan penggagas bangunan Istana Bogor, merupakan sosok yang mendirikan tempat unik ini. Begitu masuk ke dalam, Anda akan mendapati suasana dan perabotan zaman kolonial yang masih begitu terjaga orisinalitasnya hingga saat ini. Sungguh menarik bukan?

Namun sayang, memasuki tempat satu ini tak mudah. Statusnya yang tidak terbuka untuk publik, membuat Kamu harus mengantongi izin khusus dari pihak berwajib untuk bisa menikmati warisan peninggalan kolonial di Toko Merah. Tapi jika hanya ingin sekedar berfoto dan menikmati suasana kuno yang ada di sekitarnya, Anda bisa berkeliling di kawasan sekitar bangunan ini.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Tempat terakhir wisata di kota tua Jakarta yang enak yakni jalan-jalan dan menikmati suasana di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan ini merupakan Pelabuhan kuno yang pernah menjadi pelabuhan utama perdagangan internasional ini menjadi saksi kejayaan Jakarta atau Batavia di masanya. Dahulu, pelabuhan ini ramai sekali dengan pedagang dari Cina, Arab dan India yang sibuk menjual barang dagangan yang dibawanya untuk ditukar dengan uang atau rempah-rempah.

Saat ini, pelabuhan ini dijadikan tempat ‘parkir’ kapal nelayan setempat. Tapi bukan berarti hal ini membuat Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi kurang menarik. Waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat wisata ini adalah pada sore hari menjelang senja. Siluet kapal-kapal nelayan berpadu dengan cahaya jingga akan menjadi objek foto yang cantik untuk dikenang.

Nah itulah beberapa tempat wisata di Kota Tua Jakarta yang sebaiknya jangan sampai kamu lewatkan. Daripada tiap weekend ke mall, mending ke Kota Tua Jakarta aja sekalian Edutravel yang mengasyikkan. Enjoy Jakarta!

Start typing and press Enter to search

tugu jogja