Penampilan ‘Wajah Baru’ Malioboro Terlihat Menakjubkan

Kata-kata kang Joko Pinurbo tentang “Jogja itu terbuat dari Rindu, Pulang, dan Angkringan” sepertinya memanglah benar. Jika berkunjung ke Yogyakarta pasti ada daya tarik tersendiri yang menuntut kita untuk kembali. Misalnya ketika mengunjungi Malioboro yang sarat keramaian dan hiruk pikuk para pedagang, pastinya suatu saat kita akan kangen suasana disana. Suasana yang begitu harmonis, nyaman, dan tentram seakan-akan melarang kita melupakan kawasan Jogja.

Mereka (para pedagang) sengaja memilih Malioboro untuk berjualan dikarenakan kawasan tersebut selalu ramai didatangi oleh pengunjung dan lokasinya juga strategis. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata kawasan Malioboro antara dulu dan sekarang agak berbeda tampilannya. Dulu, kawasan ini bisa dibilang lumayan macet karena lokasi parkir berada di sekitaran trotoar yang menghambat lalu lintas. Namun lain halnya dengan tampilan saat ini, sampai artikel ini kami tulis Malioboro sudah dipermak oleh Pemerintah Kota Yogyakarta menjadi lokasi Pedestrian yang nyaman dan aman.

Mungkin kamu akan bertanya-tanya apa itu lokasi Pedestrian?? Bagi orang awam pedestrian memang agak asing di telinga mereka, namun bagi kalangan sastrawan atau yang mengerti makna bahasa kebanyakan sudah mengetahui makna Pedestrian. Pedestrian sendiri merupakan trotoar pinggir jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki supaya mereka dapat menikmati nuansa bangunan dan taman-taman Kota. Selain itu, Pedestrian juga dijadikan indikator pokok bagi kemajuan peradaban dan pembangunan kota yang bernuansa modern.

malioboro dulu
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Semrawutnya kawasan Malioboro sebelum dirombak via anekatempatwisata.com

Baca juga Jemparingan, Tradisi Panahan Kuno Asli Yogyakarta

Dalam hal ini semua aspek yang menghambat pejalan kaki harus dialihkan ke tempat lain termasuk lokasi parkirnya. Dulu sebelum perombakan dimulai, lokasi parkir kendaraan bermotor berada di pinggiran jalan. Hal ini mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang lumayan padat dan berimbas langsung bagi pejalan kaki. Maka dari itu, untuk mengurangi kemacetan tersebut Pemerintah Kota Yogyakarta berinisiatif merombak penampilan ‘wajah’ Malioboro agar pejalan kaki tidak merasa sumpek.

Perombakan itu dilakukan dengan menambahkan kursi duduk di sekitaran trotoar. Sedangkan lokasi parkirnya dipindahkan ke parkiran Abu Bakar Ali dan kita harus berjalan kaki menuju Malioboro. Menurut berita yang beredar, kawasan Malioboro juga dipasangi kran air siap minum hasil kerjasama Pemkot Yogyakarta dengan PDAM. Kawasan tersebut diantaranya yaitu depan gedung DPRD DIY, depan komplek Kepatihan dan depan Pasar Beringharjo.

Pengunjung yang datang kesana bebas minum sepuasnya tanpa dipungut biaya. Pihak PDAM berani menjamin air minum ini aman dikonsumsi dan higienis. Mereka juga menempatkan beberapa petugas untuk mengawasi penggunaan air ini supaya tidak disalahgunakan. Berikut ini kami tampilkan pemandangan khas Malioboro setelah mengalami perombakan.

pedestrian malioboro masa kini
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Pedestrian Malioboro masa kini lebih tertata rapi via instagram @dedi_photography99

malioboro saat malam hari
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Hiruk pikuk Malioboro di malam hari via instagram @renaldoea

Sumber gambar utama : Instagram @m_diarz

Start typing and press Enter to search

Lembah Baliem Wamena di PapuaMenyelam di Kepulauan Karimunjawa