Tenun Lurik Klaten, Kain Tradisional Indonesia yang Semakin Nyentrik

Klaten merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Keberadaannya masih jarang diketahui oleh para wisatawan karena letaknya diantara dua kota besar yaitu Solo dan Jogja. Dengan kata lain, Klaten ini seolah tenggelam oleh kota besar yang mengapitnya. Namun jangan salah, kota Klaten mampu bersaing dengan kota tetangganya. Hal itu bisa dibuktikan dari banyaknya potensi di bidang pariwisata maupun industri kerajinan. Dan salah satu yang menjadi unggulan Klaten di sektor kerajinan adalah tenun Lurik.

Apa itu Lurik?

Kata Lurik berasal dari bahasa Jawa “Lorek” yang berarti bergaris-garis. Masyarakat Jawa menganggap motif itu sebagai lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Jadi, Lurik merupakan nama kain yang dibuat dari seutas benang kemudian diolah sedemikian rupa menjadi selembar kain yang memiliki corak garis vertikal maupun horizontal.

Pada umumnya Lurik ini merupakan ciri khas provinsi Jawa Tengah. Namun dari beberapa kota di Jawa Tengah, Klaten lah yang menjadi sentra pengrajin Lurik. Jumlah pengrajin tenun Lurik di Klaten menurut data BPS tahun 2012 saja mencapai sekitar 1.200 pengrajin yang tersebar di berbagai kecamatan seperti Pedan, Cawas, Bayat, dan Trucuk. Namun dari beberapa kecamatan tersebut, desa Tlingsing, kecamatan Cawas lah yang ditetapkan sebagai desa wisata tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) Lurik di kabupaten Klaten melalui Surat Keputusan Bupati pada tahun 2011.

Penenun Lurik dengan ATBM
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Penenun Lurik ATBM via bahankain.com

Selain itu, pemerintah kabupaten Klaten juga berupaya memperkuat kota bersinar ini sebagai ikon “Ibu kota”-nya Lurik dengan membangun sebuah monumen Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di tempat yang sangat strategis yaitu di Jalan Pemuda, pojok Dinas Pendidikan kab. Klaten, Ds. Tegalyoso, Kec. Klaten Selatan. Sebelumnya, lokasi monumen ATBM ini merupakan tempat berdirinya tugu Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia). Baru kemudian di tahun 2012 diubah menjadi monumen ATBM yang menggambarkan seorang penenun wanita dengan menggunakan ATBM.

monumen tenun ATBM Klaten
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Monumen Tenun ATBM Klaten via Flickr Aditya Wijaya

Tim Klaten Lurik Carnival (KLC) bawa Lurik ke kancah Internasional.

Pesona Lurik semakin meluas. Tak hanya lokal tetapi juga internasional. Buktinya lurik tampil di salah satu event besar Chingay Parade Singapura atau bisa dikatakan perayaan tahun baru imleknya Singapura yang diadakan pada 10-11 Februari lalu. Parade ini diikuti berbagai negara dengan menampilkan budayanya masing-masing.

Tim KLC sendiri mendapat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) melalui Kementerian Pariwisata untuk tampil dalam festival budaya tersebut. Dari total kontingen Indonesia sebanyak 300 orang, kontingen Klaten mengirim 60 personel yang didukung oleh kabupaten lain seperti Boyolali dan Solo serta berkolaborasi dengan kelompok ISI Surakarta.

Dalam festival budaya ini kontingen Indonesia mengangkat tema “The Colour Full Of Lurik” dan Tarian Jaranan. Festival ini merupakan momen berharga untuk mengenalkan Lurik khas Klaten di kancah Internasional menyusul batik yang lebih dahulu dikenal dunia.

klaten lurik carnival
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Kontingen Indonesia dengan kostum motif Luriknya via Detik Travel

Dulu Lurik hanya dikenal sebagai simbol status sosial yakni motif Lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan Lurik yang digunakan oleh rakyat biasa. Selain itu, Lurik masa dulu sering dipakai untuk ritual keagamaan. Namun kini, Lurik bisa dikreasikan menjadi model pakaian yang sangat cantik, elegan, tapi tetap menonjolkan khas kesederhanaannya.

Baca juga: Kepel, Cemilan Khas Pedan Klaten yang Simpel

Semoga dengan upaya yang telah dilakukan oleh pemkab serta pencapaian tim Klaten Lurik Carnival membuat pengrajin Lurik di Klaten semakin meluas. Apalagi kalau banyak desainer-desainer Indonesia ikut membantu mengembangkan dan mengkreasikan Lurik. Bukan tidak mungkin Lurik Indonesia khususnya Lurik khas Klaten bisa terus berkembang di tengah peradaban modern dan bisa berjaya di kancah Internasional.

Start typing and press Enter to search

bekantan kalimantanangkot di padang dimodifikasi ala mobil balap