Wujud Emansipasi Kartini yang Menginspirasi Generasi Masa Kini

Yuk ketahui fakta dibalik emansipasi Kartini yang dapat menginspirasi srikandi-srikandi masa kini! Temukan fakta yang kamu inginkan melalui¬†daftar ikhtisar di bawah ini ya…

Emansipasi Raden Adjeng Kartini
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Raden Adjeng Kartini atau akrab disapa Kartini ialah seorang tokoh Jawa sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia yang dikenal dan dikenang jutaan rakyat nusantara dari dulu hingga masa kini. Bahkan ada juga warga Eropa yang bersahabat erat dengan beliau. Sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi, beliau sangat aktif dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Perempuan memiliki hak yang sama seperti laki-laki untuk diperlakukan adil atas dasar peri kemanusiaan. Hak-hak perempuan dalam menuntut ilmu dan belajar harus disamakan dengan laki-laki. Tak boleh tebang pilih antara laki-laki dan perempuan maupun si kaya dan si miskin. Semua sama di mata hukum negara. Tak ada sekat sedikit pun yang memisahkan jarak keduanya.

Atas dasar persamaan hak, Kartini muda ingin mewujudkan semangat perjuangan kaum feminisme di dunia pendidikan. Sebelum berlanjut ke lain pembahasan, kita simak dulu ulasan sejarah mengenai beliau yang kami sertakan juga latar belakangnya. Mari kita simak sejarah beliau ūüėä

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
Illustrasi keluarga Kartini via kompas.com

Raden Adjeng Kartini ialah seorang putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang diangkat menjadi bupati Jepara sesaat setelah Kartini kecil lahir. Beliau lahir dari rahim Ibu M.A. Ngasirah, putri Kyai Haji Madirono dan Nyai Haji Siti Aminah (kakek dan nenek Kartini), guru agama di Telukawur, Jepara pada tanggal 21 April 1879 di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Ayah Kartini pada mulanya ialah seorang wedana di Mayong, Jepara yang pada waktu itu peraturan kolonial Hindia-Belanda mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena Ibu M.A. Ngasirah bukan berasal dari golongan bangsawan, maka ayah Kartini menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura yang memberikan keberuntungan pada ayah Kartini.

Pasca pernikahan itu, ayah Kartini kemudian diangkat menjadi bupati Jepara menggantikan kedudukan R.A.A. Tjitrowikromo, ayah kandung dari Raden Adjeng Woerjan (ibu tiri Kartini). Sesuai kedudukan ayahnya saat itu, Ibu Kartini memang ditakdirkan menjadi keturunan seorang bangsawan yang mengalir darah Pangeran Ario Tjondronegoro IV, kakek Kartini dari ayah beliau. Pangeran Ario ini juga pernah menjabat sebagai bupati muda pada pertengahan abad 19 yang dilantik saat berusia 25 tahun.

Sedangkan kakak Kartini yang bernama Raden Mas Panji Sosrokartono adalah keturunan bangsawan yang pandai di bidang bahasa, terutama bahasa asing. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europese Lagere School atau biasa disebut ELS untuk belajar bahasa Belanda. Akan tetapi setelah berusia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah mengikuti tradisi pingitan masyarakat tempo dulu.

Tradisi pingitan memiliki maksud untuk menjaga calon pengantin perempuan dan laki-laki dari hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka dilarang bertemu sampai hari H pernikahan. Calon mempelai perempuan juga tak boleh keluar rumah. Dengan kata lain, Kartini muda akan dinikahkan pada laki-laki pilihan orang tuanya.

Calon suami Kartini saat itu menjabat sebagai bupati Rembang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang telah mempunyai tiga istri. Adipati Ario menikahi Kartini pada tanggal 12 November 1903. Mereka dikaruniai satu anak laki-laki yang lahir di Rembang, Jawa Tengah pada tanggal 13 September 1904 bernama Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat.

Pasca menikah dengan Bupati Ario, Ibu Kartini ingin mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang Kantor Kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Beruntungnya, sang suami mendukung keinginannya itu. Beliau juga ingin para wanita pribumi dan generasi wanita selanjutnya memiliki kebebasan dalam hal menuntut ilmu dan belajar.

Keresahan beliau mengenai penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat yang tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki tak dikenal, dan harus bersedia dimadu, ia tuangkan dalam berbagai surat untuk teman-temannya di Eropa. Ibu Kartini juga gemar membaca surat kabar tentang ilmu pengetahuan dan kebudayaan beserta majalah wanita Belanda yang dijadikan bahan catatan untuk surat-suratnya.

Sesuai kebiasaan Ibu Kartini dapat disimpulkan bahwa aktivitas membaca dan menulis sangat erat hubungannya dengan beliau. Secara tidak langsung, beliau juga mengajak kita semua untuk meningkatkan minat baca masyarakat agar tak ketinggalan berita dan dianggap kurang wawasan oleh orang lain.

Disadur dari Wikipedia Indonesia

Infografis Kartini - Dibalik Emansipasi | Infografis KitaBangga
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
Infografis Kartini - Dibalik Emansipasi
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Dengan membaca, semua hal yang belum kamu ketahui akan kamu temukan. Karena membaca bukan sebatas keperluan semata melainkan suatu keharusan untuk bekal di masa berikutnya. Bidang apapun layak dibaca, entah itu sosial budaya, agama, ekonomi, teknologi, maupun bidang lainnya. Jangan terfokus pada bidang yang kamu sukai maupun yang sedang populer di masyarakat. Bergeraklah sendiri meskipun tak ada orang yang menemani. Asalkan benar kenapa tidak?

Ngomong-ngomong soal menulis, menulis disini tidak hanya terpaku pada tulisan kertas ataupun media sejenisnya melainkan juga mencakup karya tulis yang diposting ke berbagai sosial media. Apa gunanya pendidikan jika tak mau mengamalkan?? Apa gunanya ilmu jika tak saling memberi tahu?? Tulislah apa yang kamu tahu dan kamu mengerti, sejatinya menulis bukan hanya mencari materi melainkan juga mempraktekan ilmu yang berlandaskan teori. Tanpa ada tulisan buku-buku di dunia ini tak ada, tanpa ada tulisan portal berita online tak dibentuk, tanpa ada tulisan kamu tidak bisa belajar.

Dulu, siapa yang menulis mengkritisi penguasa dan antek-anteknya akan dimasukkan ke penjara maupun diasingkan. Sekarang, kebebasan menulis serasa menunjukkan gaungnya. Referensi menulis banyak tersebar di media massa, mengapa tak segera menulis?? Apakah terkendala ide? Atau terlalu sibuk dengan urusan lain? Sebenarnya persoalan itu bisa diatasi asalkan ada kemauan, kalau dasarnya malas, capek, sibuk, lantas sampai kapan alasanmu berakhir?

Yang punya kesibukan tidak serta merta dirimu saja, orang lain juga punya. Tapi, mengapa para penulis muda berbakat bisa menerbitkan buku atau menulis sesuatu di media massa?? Jawabannya cuma satu, mereka punya niat, punya kemauan. Asalkan ada kemauan, mayoritas persoalan terselesaikan.

So, mari kita tingkatkan minat baca masyarakat dengan cara menginformasikan kepada mereka betapa pentingnya manfaat dari aktivitas membaca dan jangan lupa juga mengajak mereka untuk segera menulis. Karena menulis merupakan salah satu aset penting bagi generasi kita selanjutnya. Ayo bergerak !!! Jangan cuma diam !!!

Research & Writer

Graphic Designer & Developer

Start typing and press Enter to search

Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Sumpah Pemuda